MAKALAH DASAR-DASAR ILMU BUDAYA
WAYANG KULIT SEBAGAI KESENIAN JAWA
YANG LUHUR DAN AGUNG

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya

DISUSUN OLEH :
DIAN MARFUAH
11/318603/SA/16123

PROGRAM STUDI SASTRA ARAB
JURUSAN SASTRA ASIA BARAT
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2011/2012

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia dan hidayah Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah terhadap baginda Rasullullah SAW, yang telah membawa kita pada zaman gelap gulita hingga zaman yang terang benderang seperti ini.
Pertama-tama maksud dibuatnya makalah berjudul “Wayang Kulit Sebagai Kesenian Jawa Yang Luhur Dan Agung” ini adalah sebagai tugas dari mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya. Selain itu agar mahasiswa mengerti dan memahami dengan materi dan penjelasan yang telah diberikan, makalah ini dibuat juga untuk tugas mandiri seberapa jauh untuk mengerti dan lebih paham atas materi yang telah diberikan.
Tak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak DR. Amir Ma’ruf, M.Hum. selaku dosen dari mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya yang telah memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan bermanfaat sehingga makalah ini tersusun, kepada kedua orangtua kami yang telah memberikan dukungan moral dan spiritual, kepada Petugas PPTIK UGM yang telah membantu publikasi sehingga tugas makalah tersebut bisa terunggah ke blog, serta teman-teman satu jurusan prodi Sastra Asia Barat yang telah memberikan semangat dan perjuangan kebersamaan dalam menempuh masa studi.
Makalah ini ditulis semaksimal mungkin berdasarkan pengetahuan penulis, serta pengamatan yang penulis dapatkan baik selama diperkuliahan maupun di lingkungan sekitar. Namun, dalam pembuatan makalah ini tak ada gading yang tak retak, dalam penyelesaian baik pembuatan maupun penyampaian masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalamnya. Dan semoga kritik maupun saran yang diberikan dapat membuat laporan ini menjadi lebih sempurna di kemudian hari dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui dan berbagi informasi atas apa yang telah penulis susun tersebut.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yogyakarta, 05 November 2011
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Wayang adalah salah satu kesenian yang telah ada di Indonesia sejak ajaran Hindhu masih tersebar di seluruh Nusantara. Wayang sendiri mengambil tokoh-tokoh dewa maupun ksatria yang ada dalam agama Hindhu dari India. Wayang di Indonesia tersebar dalam beberapa versi sesuai dengan daerah, sebagai contoh Wayang Ringgit, Wayang Uwong dari Jawa, Wayang Golek dari Sunda dan Jawa Barat, Wayang Bali dari Bali, Wayang Palembang dari Sumatra Selatan, Wayang Sasak dari Nusa Tenggara Barat, baik Wayang Cina yang berasal dari Cina yang diadopsi dan berkembang pesat di masyarakat Tiong Hoa di Indonesia.
Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sebenarnya, pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia. Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka. Namun, pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.
Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.
Akan tetapi hidup wayang kulit saat ini sudah memprihatinkan. Meskipun hidup, seolah telah kehilangan “roh-nya”. Tengok saja di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Solo, pertunjukan wayang kulit mulai jarang. Acara-acara hajatan, maupun perayaan tidak lagi menanggap wayang kulit. Namun menanggap dangdut, atau jenis musik yang lain.

Saat ini untuk pertunjukan wayang sendiri memang kurang diminati oleh masyarakat kita, karena banyak pilihan hiburan lain. Mungkin wayang kulit mereka anggap membosankan. Seolah wayang kulit sudah memasuki masa sekarat.
Berbeda dengan tahun 1950-an, ketika wayang kulit masih rutin naik panggung Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo. Saat itu masih banyak masyarakat yang berbondong-bondong menontong wayang kulit sampai pagi. Mereka sangat menikmati salah satu seni khas tradisional jawa ini.
Bahkan tidak sedikit masyarakat yang hafal cerita wayang, baik cerita Bharatayuda, maupun cerita Ramayana. Tokoh-tokoh punakawan menjadi bintang hiburan kala itu.
Akan tetapi seiring berkembangnya jaman, kemajuan teknologi, informasi, dan hiburan. Membuat beberapa kesenian tradisional Indonesia tak dilirik lagi oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah kesenian wayang kulit. Tak banyak lagi yang menggandrungi kesenian tradisional ini. Terlebih melestarikannya dengan mempelajari kesenian yang berasal dari kulit ini.
Yang menjadi pertanyaan apakah pengakuan atas warisan budaya ini bangsa Indonesia terutama generasi mudanya sendiri mengerti apa itu wayang kulit (purwo) dan filosopi dibaliknya? pembahasan dimakalah ini dimaksud untuk memperkenalkan lebih jauh tentang wayang kulit (purwo) Jawa, yang ditujukan pada masyarakat serta generasi muda Indonesia agar lebih mengerti nilai luhur, agung serta kearifan lokal dibaliknya.

BAB II
RUMUSAN MASALAH
• Adakah hubungan filosofi kehidupan yang terkandung dalam seni Wayang Kulit sebagai tontonan, tuntunan dan falsafah hidup?
• Bagaimana peranan Wayang Kulit sebagai salah satu kesenian luhur dan agung yang berbudaya di Indonesia?
• Dan bagaimana peran Pemerintah terhadap kesenian yang adiluhung tersebut?

BAB III
TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah :
1. Mengetahui seberapa besar peranan kesenian Wayang Kulit sebagai salah satu warisan budaya yang luhur dan agung.
2. Untuk mengetahui adanya hubungan filosofi yang terkandung dalam kesenian Wayang Kulit.
3. Untuk Mengetahui peran Pemerintah dalam menyikapi kesenian yang adiluhung seperti Wayang Kulit.

BAB IV
ISI DAN PEMBAHASAN
a. Hubungan filosofi kehidupan yang terkandung dalam seni Wayang Kulit sebagai tontonan, tuntunan dan falsafah hidup
Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau objek penelitian.
Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini.Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsure seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi.
Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.
Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi dan luhur. Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat.
Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.

Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali (id.wikipedia.org). Sedikit melihat kembali sejaranh singkat tentang wayang di Indonesia, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi” (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”.
b. Peranan Wayang Kulit sebagai salah satu kesenian luhur dan agung yang berbudaya di Indonesia.
Wayang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia pada tahun 2003. Wayang sebagai “Karya Agung Budaya Dunia” yang diakui oleh UNESCO bukan hanya wayang Jawa tapi wayang Indonesia, termasuk wayang Bali, wayang golek Sunda, wayang Lombok, dll. Tapi wayang yang lebih dikenal di Indonesia adalah wayang kulit Jawa.
Suatu gejala yang patut untuk diamati dalam masyarakat Jawa – yang punya pengaruh yang kuat dalam masyarakat Indonesia pada umumnya – adalah masih lestarinya budaya wayang kulit biarpun berbagai unsur budaya telah mempengaruhi bangsa Jawa maupun bangsa Indonesia, termasuk unsur-unsur budaya Budha, Hindhu, Islam maupun Barat.
Bukti yang nyata dari masih besarnya pengaruh budaya wayang kulit pada saat ini dengan masih banyaknya peminat pada siaran wayang kulit dilayar TV maupun pertunjukan langsung pada acara-acara tertentu.
Hal ini patut dicermati mengingat bahwa budaya wayang kulit merupakan budaya tua yang masih bertahan sampai dengan saat ini yang meminjam istilahnya Alvin Toffler berarti tetap bertahan pada masa gelombang pertama, gelombang kedua, sampai dengan gelombang ketiga yang merupakan abad informasi dengan komunikasi termasuk internet sebagai tulang punggung pendukung utamanya. Bertahannya budaya wayang kulit menjadi menarik mengingat bahwa:
1. Wayang kulit berbasis cerita Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari budaya Hindhu dari India.
2.Masyarakat Jawa mayoritas beragama Islam
3. Cerita dalam wayang kulit berbasiskan cerita tentang kerajaan yang raja dan ksatria sebagai fokus utamanya yang berarti semangat dalam ceritanya adalah tata budaya feodal.
4. Masyarakat Jawa terpelajar umumnya berbasis pendidikan Barat yang tidak mau terpengaruh budaya Barat.
. Jelas bagi masyarakat di luar Indonesia akan terkejut melihat segala kontradiksi yang mungkin timbul dalam kompleksitas masyarakat Jawa maupun Indonesia. Oleh karena itu masyarakat di luar Indonesia tidak mungkin bisa menyelami sepenuhnya manusia Jawa atupun Indonesia tanpa mempelajari lebih jauh pengaruh budaya masalalu termasuk yang sangat besar pengaruhnya seperti wayang kulit.
Dalam hal ini penulis sangat kagum kepada Prof. Danys Lombard yang dalam bukunya “Nusa Jawa – Silang Budaya” yang menyadari betul pengaruh wayang purwo/kulit – juga tulisan klasik Jawa lainnya seperti Babad Tanah Jawi, Serat Centini, dll. – dalam kehidupan masyarakat Jawa sampai dengan saat ini. Kenapa wayang masih bisa bertahan sampai saat ini?
Di masa yang lalu wayang kulit dipergunakan oleh masyarakat Jawa untuk keperluan ritual seperti upacara ruwatan. (Note: Ruwatan adalah upacara yang diadakan untuk menolak bala – sial – yang dikarenakan secara alami seseorang dilahirkan dengan kondisi membawa ke arah malapetaka – atau yang dipercaya akan membawa malapetaka – umpamanya: anak tunggal, anak kembar, anak lelaki yang diapit oleh dua anak dan sebagainya).
Upacara lainnya yaitu untuk keperluan keselamatan desa yang setiap bulan Suro (awal bulan tahun Jawa atau bulan Muharam dalam tahun Islam) setahun sekali diadakan upacara pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan cerita “Bharatayuda” agar dalam tahun berjalan desa akan diberi panen yang banyak dan keselamatan seluruh warganya. “Bharatayuda” adalah cerita peperangan antara Kurawa dan Pandawa yang sesama darah Bharata untuk memperebutkan kerajaan Indrapasta (Amartapura) dan Hastinapura, dianggap cerita yang sakral yang tidak setiap dalang bisa melaksanakan dan tidak setiap saat pertunjukan tersebut bisa dipentaskan.
Jelas bahwa wayang tidak lepas dari keseharian kehidupan manusia Jawa di masa lalu (yang juga masih hidup di pedesaan masa kini) dalam ritus kehidupan sehari-hari. Dipercaya bahwa budaya wayang kulit sudah ada bahkan sebelum pengaruh agama Hindu datang dengan bukti adanya unsur punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang tidak ada dalam cerita asli baik Ramayana ataupun Mahabharata. Walaupun basis cerita wayang adalah Ramayana dan Mahabharata tetapi dalam kenyataannya ceritayang dibawakan sudah bercampur atau diubah dengan cerita yang diperhalus dan disesuaikan dengan budaya Jawa sebagai contohnya adalah :
1. Dewi Drupadi dalam cerita Mahabharata yang asli bersuami lima yaitu semua Pendawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dalam pewayangan diceritakan adalah hanya istri Puntodewo/Yudistira karena budaya Jawa tidak mengenal poliandri.

2. Gatotkaca adalah anak Bima yang raksasa di Mahabharata dan hanya muncul pada saat perang Bharatayuda, dijadikan idola pahlawan yang gagah perkasa dalam pewayangan dengan berbagai cerita kesaktiannya dengan ajian-ajian seperti Brajamusti yang sampai saat ini masih bisa dipelajari dikalangan masyarakat Jawa.
3. Dalam Mahabarata ttidak diceritakan bahwa masing-masing Pandawa Lima diberi daerah kekuasaan, di dalam pewayangan diceritakan bahwa Arjuna mempunyai daerah teritori namanya Madukara, Bhima dari Jodhipati, Gatotkaca dari Pringgodhani dan sebagainya.
Dari indikasi di atas jelas bahwa cerita Ramayana dan terutama Mahabarata telah diberikan kandungan lokal sedemikan rupa sehingga mengalami internalisasi dan sangat dekat dengan masyarakat Jawa, termasuk memasukkan unsure punakawan didalamnya. Bahkan di beberapa tempat di Jawa diberi nama tempat yang mengesankan seolah-olah kejadian cerita Mahabharata itu memang betul-betul terjadi ditanah Jawa. Sebagai contoh: Didaerah yang sekarang dijadikan waduk Sempor, Gombong, Jawa -Tengah, nama asli desa tersebut adalah Cicingguling. Penduduk setempat percaya tempat tersebut adalah tempat Bhima berperang melawan Duryudana dengan menghantamkan gadanya di bagian pahanya sehingga Duryudana terpaksa menyisingkan kainnya (celananya) – bahasa Jawanya menyisingkan adalah cicing – juga berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tersebut diberi nama Cicingguling.

Begitu juga di daerah pegunungan Dieng di Jawa Tengah maupun di puncak gunung Lawu di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama-nama tempatnya diberi kesan seolah-olah tempat tersebut adalah tempat keberadaan para dewa dalam cerita Mahabharata.
Ketika agama Islam datang ke Indonesia, bahkan oleh salah satu wali sanga (sembilan wali) – Sunan Kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata. Sebagai contoh: Yudhisthira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat (pusaka) yang bernama “Jamus Kalimasada” yang merupakan pegangan atau lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat” yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.
Konon diceritakan Yudhisthira belum bisa meninggal sebelum ada yang bisa menjabarkan jimat “Kalimasada” yang kemudian dalam pertapaannya bertemu dengan Sunan Kalijaga di hutan Glagahwangi. Sunan Kalijaga melihat jamus “Kalimasada” yang ternyata selembar kulit dengan tulisan “Kalimat Sahadat”. Setelah dibacakan dan ditirukan oleh Yudhisthira yang berarti meng-Islamkannya, Yudhistira bisa menemui ajalnya sebagai seorang Muslim. (Note: apabila dipikirkan secara rasional tentu saja tidak masuk akal karena Puntadewa bagaimanapun adalah produk dari budaya Hindu berasal dari cerita fiksi epic Mahabharata. Tentu saja ini adalah kepandaian dari wali sanga untuk meng-Islamkan masyarakat yang pada saat itu masih mayoritas beragama Hindhu. Dalam hal seberapa besar Islam betul-betul secara effektif mempunyai pengaruh yang besar dalam wayang kulit masyarakat Islam masih banyak meragukan. Oleh karena itu ada sebahagian masyarakat Islam bahkan mengharamkan “wayang purwo/kulit” yang jelas nafas Hindunya atau Jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas Islamnya, lepas dari kenyataan bahwa wayang kulit masih tetap digemari masyarakat Jawa yang Islam maupun yang bukan Islam.
c. Peran Pemerintah terhadap kesenian adiluhung seperti Wayang Kulit
Keterlibatan pemerintah pusat maupun daerah dalam melestarikan seni wayang kulit, sangat penting. Karena jika pemerintah sudah mendukung, misalnya dengan menghimbau instansi pemerintah untuk mulai kembali menggelar pertunjukan wayang kulit untuk berbagai acara perayaan, maka wayang kulit tidak akan punah.
Jika pemerintah ikut cawe-cawe (ikut campur, -red), maka pertunjukan wayang kulit akan subur kembali. Karena segala sesuatu itu jika sudah mendapat campur tangan pemerintah, pasti akan berjalan dengan baik. Istilahnya, jika kepala sudah berkehendak, yang bawah tinggal mengikuti. Yang menjadi keprihatinan adalah sikap pemerintah saat ini yang seakan menutup mata dengan seni-seni tradisional Jawa pada khususnya. Pemerintah seolah tidak mau peduli dengan kebudayaan bangsa yang luhur ini.
Coba kita lihat sekarang seni ketoprak, wayang orang, topeng, termasuk wayang kulit sendiri seolah hidup enggan, mati tak mau. Dan pemerintah menutup mata terhadap hal itu. Selama ini justru dukungan terhadap wayang kulit datang dari orang-perorangan yang masih peduli dan suka dengan wayang kulit. Tak jarang orang asing yang justru peduli dan menyisihkan uangnya untuk keperluan pertunjukan wayang kulit, kita tengok saja seperti mahasiswa dari Belanda yang beramai-ramai memeriahkan Pagelaran Wayang Kulit di Amsterdam, Belanda.

BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Seni wayang kulit sendiri mempunyai nilai yang sangat penting bagi bangsa. Karena didalam setiap ceritanya terkandung nilai moral yang luhur. Cerita-cerita dalam wayang kulit, mengisahkan kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Menceritakan tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang luhur. Ajaran yang tidak bisa kita dapatkan ketika menonton pertunjukan lain yang hanya sekedar “hiburan”.
Seni wayang kulit itu, sebenarnya berisi pesan moral yang sangat luar biasa. Karena tiap ceritanya pasti mempunyai pesan yang positif kepada penontonya. Selain itu, falsafah wayang, dalam implementasinya dalam kehidupan berperan penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, dalam seni wayang terdapat kearifan lokal yang bermanfaat untuk membangun karakter dan jatidiri bangsa Indonesia melalui watak tokoh dalam wayang.
Wayang kulit sebagai karya agung, bukan hanya isapan jempol semata, karena dunia pun sudah mengakui bahwa seni wayang kulit merupakan karya yang agung dan luhur. Terbukti dengan disematkannya penghargaan sebagai masterpiece (karya agung) dari UNESCO kepada seni wayang kulit.
Tentu kita patut bangga dengan adanya penghargaan tersebut. Akan tetapi bukan hanya bangga tanpa diikuti dengan ikut melestarikannya. Kepedulian masyarakat dan pemerintah di negeri ini terhadap wayang kulit sangat diharapkan.
Jangan sampai kesenian tradisional yang penuh pesan moral ini, diaku oleh bangsa lain, sebagai budaya milik mereka. Jika sudah seperti itu, masyarakat sendiri yang akan rugi telah kehilangan seni wayang kulit yang hanya ada di bangsa ini.
Jangan sampai seni wayang kulit tetap hidup, namun seolah mati di negeri sendiri, ditelan kemajuan jaman dan pengaruh modernitas.

DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org/wiki/Wayang (03 November 2011, 19:24 WIB).

suebeus.blogspot.com/2009/…/wayang-seni-tontonan-dan-tuntunan.h… (05 November 2011, 19:32 WIB).

wayang.wordpress.com/ (06 November 2011, 8:38)

Tirtohamidjojo, S. 1987. Wayang: ilmu pengetahuan hidup. Universitas Michigan: Wiratama Prasetya Sakti.

WEB
Makalah ini dapat diakses melalui:
dian.marfuah.blog-ugm.ac.id.